Thursday, May 23, 2013

Media untuk Mengajarkan Anak

Sebagai seorang ibu dari anak laki2 berumur 4 tahun yang super-duper energetik, dan tidak ada takutnya. Kadang2 gw sering agak frustasi dan sangat sedikit stress menghadapi kelakuannya. Abrar kalau udah di mol, atau jalan2 ke mana aja, bawaannya lari2 aja gitu. Terus kabur2an ke mana gitu. Emaknya yang bingung, nyari2 anak sampe keriting nih mulut teriak2 di tengah mol. Bodo deh dikira orang gila sama orang2 di sekitaran juga, apa boleh buat. Udah ga ada lagi deh pencitraan, yang penting anak bisa ketemu. Nanti anaknya sudah ketemu, dikasih tauk ibunya,"Abrar jangan jauh2 dong dari ibu, ibu takut. Nanti kalo ga ketemu ibu lagi gimana?". Anaknya ngangguk2, bilang Iya. Eh, ga berapa lama udah kabur2an lagi. Walhasil, ke toko niatnya mo beli barang atau makan, yang ada cuma main petak umpet dan kejar2an sama anak *narik nafas panjang* :(. Sampai pada suat ketika, Abrar bawa buku yang masih diplastikin dana dia suruh gw untuk bacain buku itu. Gw juga lupa, kapan ya gw beli buku itu?Dan kenapa masih belum dibuka? Ya anggap saja ini buku merupakan buku yang diberikan oleh TUHAN untuk mengatasi permasalahan gw :).


Judulnya,"Tersesat". Jadi buku ini cerita tentang seorang anak, namanya Alvin, yang ikut ibunya ke pertokoan, untuk membeli baju. Sebelumnya ibunya pun berpesan pada Alvin untuk tidak jauh2 dari ibunya. Namun anaknya lama2 bosan, dan pergi ke toko mainan tanpa sepengetahuan ibunya. Akhirnya ibu dan anak itu saling cari2an. Pada saat anak kehilangan ibunya itu, ada perkataan Alvin yang sedikit gw dramatisir :

Alvin: Bagaimana kalau nanti ada orang jahat? Bagaimana kalau aku tidak bisa ketemu ibu lagi?

versi gw :
Alvin : Bagaimana kalau ada orang jahat? Bagaimana kalau ada yang culik aku? Bagaimana kalo nanti aku diculik, disuruh kerja, ga boleh makan, ga dikasih mainan, disuruh kerja di lampu merah. Ga bisa tidur di kasur, ga bisa ketemu ibu lagi? bla bla bla..
dengan suara lirih, diakhiri dengan "hiks..hiks..hiks.." kesedihan yang mendalam

Akhir cerita, anak dan ibu itu bisa berketemu kembali. Alvin pernah diberi tahu oleh ayahnya, kalau tersesat dia harus mencari petugas keamanan dan menuju ke pusat informasi. Setelah pusat informasi meng-informasikan-nya melalui pengeras suara, ibunya pun dapat bertemu dengan Alvin. Ibu memeluk Alvin, dan dia memberikan Alvin hadiah mobil2an karena sudah bertindak pintar, dengan mencari petugas keamanan, namun dia juga mendapatkan hukuman karena tidak mendengarkan pesan ibu untuk tidak jauh2 dari ibunya, dengan hukuman tidak boleh main bola bersama teman2nya selama seminggu. Menurut gw, endingnya bagus dan ibunya sangat bijaksana.

Setelah selesai dibacain buku itu, Abrar bilang,"Ibu, ibu jangan jauh2 ya sama Abrar". Dijawab ibu,"Iya Brar, Abrar juga jangan jauh2 ya, nanti ibu ga bisa ketemu Abrar lagi.". Terus kita berpelukan, dan Abrar pun nangis tersedu2 *anak gw sometimes agak lebay, kayaknya nurun dari ibunya*. Keesokan harinya, kita jalan2 ke mol, Alhamdulillah Abrar stay tune deket2 ibunya.

Veilicious! The truth beauty is wrapped in a beautiful way...

No comments:

Post a Comment